MEMAHAMI KONFLIK
*****
Hidup memang tidak selamanya lurus dan bahagia. Ada kalanya kita mengalami sedih, cemas, bingung atau takut akibat dari masalah yang kita hadapi. Dan masalah itu salah satunya terjadi akibat adanya konflik pada diri kita terhadap suatu keadaan atau terhadap orang lain. Some times, kita sering bicara masalah konflik, tapi apakah kita tahu apakah sebenarnya konflik itu. Disini kami mencoba menjabarkan sedikit tentang konflik itu sendiri.
Ada beberapa definisi tentang koflik. Antara lain: menurut Joyce Hocker dan William Wilmot (Interpersonal Conflic), konflik adalah hal yang abnormal karena hal yang normal adalah keselarasan, konflik sebenarnya hanyalah suatu perbedaan atau salah paham, dan konflik adalah gangguan yang terjadi karena kelakuan orang-orang yang tidak beres. Sedangkan menurut Watkins konflik bisa terjadi bila sukurang-kurangnya terdapat dua pihak yang secara potensial dan praktis dapat saling menghambat untuk mencapai suatu sasaran tertentu yang sama-sama dikejar oleh kedua belah pihak namun hanya salah satu yang mungkin akan mencapainya.
Secara sederhana konflik bisa diartikan sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan karena adanya hambatan-hambatan baik dari diri sendiri maupun dari pihak lain. Konflik tidak hanya terjadi antara dua individu atau lebih, tetapi konflik juga terjadi hanya pada satu individu, yang mana individu dihadapkan pada suatu keadaan dimana ada daya-daya yang saling bertentangan arah, tetapi dalam kadar kekuatan yang kira-kira sama.
Di dalam konflik terdapat beberapa unsur yang bisa atau mempunyai potensi sebagai pemicu terjadinya konflik. Unsur-unsur tersebut antara lain :
1. Adanya ketegangan yang diekspresikan.
2. Adanya sasaran/tujuan atau pemenuhan kebutuhan yang dilihat berbeda, yang dirasa berbeda atau yang sesungguhnya bertentangan.
3. Kecilnya kemungkinan untuk pemenuhan kebutuhan yang dirasakan.
4. Penghambat/adanya kemungkinan bahwa masing-masing pihak dapat menghalangi pihak lain.
5. Adanya saling ketergantungan
Pada penerapan teori Lewin terhadap gejala kejiwaan yang kongkrit (salah satunya adalah konflik), terdapat tiga macam konflik, yaitu :
1. Konflik mendekat-mendekat (approach-approach conflict), yaitu seseorang berada diantara dua valensi positif yang sama kuat. Konflik ini cenderung tidak berlangsung lama, oleh karena begitu seseorang bergerak ke salah satu arah, maka konflik akan selesai. Oleh karena itu konflik ini disebut juga sebagai konflik yang tidak stabil.
2. Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflict), yaitu seseorang berada diantara dua valensi negative yang sama kuat. Konflik yang seperti ini bisa bertahan lama, yaitu jika seseorang memanipulasi tingkah laku sedemikian rupa sehingga seseorang tetap berada di tengah-tengah dua valensi tersebut. Keadaan dimana seseorang tetap berada diantara dua valensi untuk waktu yang relative lama disebut keadaan keseimbangan yang semu (quasi state of equilibrium). Kemungkinan ini menyebabkan konflik jenis ini menjadi konflik yang stabil.
3. Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance), yaitu seseorang berada atau menghadapi valensi positif dan negative. Konflik ini juga bisa terjadi pada jenis konflik ini.
Konflik menjauh-menjauh dan mendekat-menjauh hanya dapat terjadi jika ada batas-batas yang kokoh pada lapang kehidupan seseorang yang bersangkutan sehingga tidak ada daya yang bisa keluar dari wilayah-wilayah tertentu yang menyebabkan konflik tersebut. Jika batas tidak kuat dan ada wilayah lain yang bervalensi positif, maka daya akan berpindah ke wilayah yang terakhir ini. Terjadilah subtitusi dan konflikpun berakhir.
Setiap individu memiliki perbedaan, yang mengakibatkan berbeda pula mereka dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik yang dihadapinya. Beberapa sikap dalam menghadapi konflik tercermin dalam menghadapinya :
MEMAKSA | KERJASAMA | |
KOMPROMI (pencapaian target – hubungan baik yang terjadi) | ||
MENGHINDAR | MENGALAH |
RENDAH TINGGI
Keterangan :
· Memaksa / kompetensi / konfrontasi : gaya ini dilakukan seseorang bila ia berusaha mencapai sasaran atau tetap meneruskan minatnya tanpa melihat akibatnya pada pihak lain yang berkonflik. Dengan demikian ia versaing dan mendominasi dan cenderng memaksakan kehendaknya.
· Kerjasama : gaya ini digunakan bila pihak-pihak yang terlibat konflik menginginkan untuk memuaskan keinginan semua pihak dan mencari hasil yang menguntungkan.
· Menghindari / menarik diri : seseorang menyadari bahwa ada konflik tetapi bereaksi dengan menghindari atau menekan kenyataan adanya konflik tersebut.
· Mengalah / menyesuaikan / akomodasi : gaya ini digunakan apabila seseorang mengalah dan mengubah prioritas kebutuhannya demi orang lain. Seringkali hasilnya hubungan baik atau munculnya masalah tertunda.
· Kompromi : gaya ini muncul bila pihak-pihak yang berkonflik harus mengorbankan sesuatu dan terlihat bersama-sama dalam proses mencapai sasaran dan memenuhi kebutuhan kedua belah pihak, yang dicari adalah titik temu atau jalan tengah.
Dalam menghadapi atau menyelesaikan konflik yang terjadi, dan dalam menggunakan daya penanganan konflik sebaiknya disesuaikan agar tidak menimbulkan konflik baru. Di bawah ini beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan dalam menyesuaikan daya penanganan konflik dengan situasi yang sedang terjadi, yaitu :
1. Kompetensi, diambil pada situasi :
a. Bila kecepatan dan tindakan pengambilan keputusan adalah fital / keadaan darurat.
b. Pada masalah penting dimana tindakan yang tidak popular tetap harus diterapkan, misalnya tentang pelaksanaan peraturan.
c. Bila fital untuk kesejahteraan organisasi di mana kita tahu bahwa kita benar.
d. Melawan orang-orang yang mengambil keuntungan dari yang mengalah.
2. Kerjasama, diambil pada situasi :
a. Mencari keputusan yang terintegrasi bila kedua belah pihak sangat penting untuk dikompromikan.
b. Jika sasaran kita adalah belajar.
c. Untuk menggabungkan pengetahuan dari orang-orang yang berbeda pandangan.
d. Untuk mendapat kesepakatan dengan memasukkan yang tersangkut ke dalam konsesus.
e. Untuk bekerja dengan perasaan, dan perasaan ini dipengaruhi oleh hubungan manusia.
3. Menghindari, diambil pada situasi :
a. Bila masalahnya remeh atau masalah yang lebih penting diabaikan.
b. Bila kita tidak memperoleh kesempatan untuk memuaskan keinginan kita.
c. Bila potensi mengganggu lebih besar dari keuntungan.
d. Untuk membiarkan orang lain jadi tenang dulu dan memperoleh kembali perspektif.
e. Bila pengumpulan informasi mengganti keputusan langsung.
f. Bila orang lain dapat menyelesaikan konflik dengan lebih efektif.
g. Bila masalahnya terlihat menyinggung atau merupakan gejala dari masalah lain.
4. Menyesuaikan, diambil pada situasi :
a. Bila kita tahu kita salah, member kesempatan posisi yang lebih untuk didengarkan dan dipelajari, dan memperlihatkan masuk akalnya kita.
b. Bila masalah penting bagi orang lain dari pada untuk kita, memuaskan orang lain dan memelihara kerjasama.
c. Untuk membina kredit sosial bagi masalah yang akan datang.
d. Untuk menormalkan kerugian bila kita dalam posisi kalah atau rugi.
e. Bila harmoni dan kestabilan sangat penting.
f. Untuk member kesempatan pada bawahan untuk belajar dari kesalahan.
5. Kompromi, diambil pada situasi :
a. Bila sasaran itu penting tetapi tidak perlu usaha yang besar atau ada potensi gangguan untuk menang sendiri yang lebih besar.
b. Bila lawan dengan kekuatan seimbang disetujui untuk bersama-sama dalam pencapaian sasaran yang eksklusif.
c. Untuk mencapai penyelesaian sementara atas masalah kompleks.
d. Untuk dapat mencapai keputusan yang berguna dalam waktu yang terbatas.
e. Sebagai suatu pengganti bila penyesuaian dan kompetensi tidak berhasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar