Miris di hati rasanya setiap mendengar dan melihat berita di tv yang isinya tidak pernah jauh-jauh dari kisah "si kaya" dan "si miskin". Para koruptor yang bisa "menjelajah dunia" tanpa merasa dosa, kisah orang-orang yang "sok sibuk" dengan urusan pribadinya, sampai kisah orang tua yang harus kehilangan anak tercinta karena tidak punya biaya untuk mengobati sakit sirosisnya, atau kisah para pahlawan devisa yang mesti bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang semestinya bisa mereka cari dan dapatkan di negeri mereka sendiri, seandainya negeri ini "dipenuhi" oleh orang-orang yang berhati nurani.
Sekarang ini, semakin banyak orang yang selalu mengharapkan hasilnya sebelum melakukan pekerjaannya. Dan kebiasaan untuk tidak mau melakukan sesuatu tanpa mengetahui dulu apa yang akan didapatkannya nanti sebagai imbalan. Itulah Budaya Pamrih. Sebuah budaya yang bisa menumbuhkan dan meningkatkan sifat materialistis dan kecenderungan menjadi hedonis. Manusia akan cenderung berfikir jangka pendek, memiliki orientasi yang pendek, tidak pernah melihat misi, dan cenderung memiliki visi yang pendek pula. Sebuah budaya yang menjadikan mata hati manusia menjadi buta, yang akibatnya, manusia tidak lagi mendahulukan sikap memberi tetapi lebih memfokuskan diri untuk selalu siap menerima. Tangan di atas tidak lagi menjadi lebih baik dibandingkan dengan tangan di bawah.
Sayangnya, budaya pamrih ini sudah mengakar begitu kuatnya di bumi ini pada umumnya, dan di negeri ini pada khususnya. Secara logika, rasanya begitu sulit untuk menghapus atau paling tidak mengurangi berkembangnya budaya ini. Tapi, bukankah tidak ada yang mustahil dalam hidup?. Semoga saja, kita bisa terlindungi dari budaya pamrih ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar